Penyelenggaraan ibadah haji setiap tahunnya selalu membutuhkan dukungan penuh dari barisan petugas yang kompeten, responsif, dan berdedikasi tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut, sistem rekrutmen pun terus dibenahi oleh pemerintah agar mampu menjaring bibit-bibit pelayan tamu Allah yang terbaik. Kabar terbarunya, mulai rekrutmen Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 1448 H / 2027 M, pemerintah resmi melakukan transformasi besar dengan menerapkan sistem Computer Assisted Test (CAT). Langkah ini menjadi sejarah baru yang dinilai sebagai lompatan luar biasa dalam mewujudkan seleksi petugas haji yang jauh lebih modern, adil, dan tanpa celah.
Transformasi sistem rekrutmen ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Apabila pada tahun-tahun sebelumnya ujian sering kali memanfaatkan gawai atau ponsel pintar pribadi masing-masing peserta, kini seluruh tahapan uji kompetensi dialihkan sepenuhnya ke dalam fasilitas komputer bersistem CAT milik BKN. Kebijakan terpusat ini berlaku untuk menjaring berbagai formasi petugas, mulai dari PPIH Kloter, PPIH Arab Saudi, hingga PPIH bidang kesehatan.
Banyak pihak tentu bertanya-tanya, mengapa sistem seleksi ini diubah secara drastis? Pihak Kemenhaj menjelaskan bahwa evaluasi dari pelaksanaan tahun lalu menunjukkan banyaknya potensi kendala teknis akibat beragamnya jenis dan spesifikasi ponsel pintar peserta. Namun, alasan utamanya jauh lebih esensial dari sekadar urusan perangkat. Penggunaan sistem CAT BKN bertujuan mutlak untuk mengunci akuntabilitas dan objektivitas. Untuk menjamin tidak ada ruang bagi kecurangan, segel ruangan ujian bahkan baru akan dibuka bersama-sama sesaat sebelum tes dimulai di hadapan para peserta. Seluruh proses dikawal ketat agar berlangsung transparan; yang lolos murni karena kapasitas otaknya, bukan karena relasi.
Antusiasme puluhan ribu pendaftar saat ini tentu tertuju pada kapan perhelatan ujian ini digulirkan. Seleksi CAT diselenggarakan secara serentak di berbagai titik lokasi ujian BKN yang tersebar di seluruh Indonesia. Mengingat tingginya animo peserta dan proses verifikasi berkas administrasi yang sangat teliti, pelaksanaan ujian dibagi ke dalam dua gelombang. Ujian gelombang pertama dijadwalkan bergulir pada Sabtu, 5 September 2026. Sementara itu, bagi pendaftar yang status verifikasi dokumennya belum rampung tidak perlu khawatir, karena mereka akan diakomodasi pada ujian gelombang kedua yang direncanakan pada Sabtu, 12 September 2026.
Bagi para kandidat yang bersiap menghadapi ujian, aturan pelaksanaannya sangat ketat karena mengadaptasi standar baku seleksi abdi negara. Calon petugas diwajibkan hadir di lokasi ujian 90 menit sebelum jadwal untuk melewati serangkaian prosedur mulai dari registrasi ulang, penitipan barang, hingga body checking sebelum diarahkan masuk ke ruang tunggu steril. Peserta dilarang keras membawa perangkat elektronik jenis apa pun, termasuk ponsel pintar, ke dalam ruang ujian.
Persyaratan dokumen yang boleh dibawa ke meja ujian pun dibatasi hanya pada Kartu Peserta Ujian asli, KTP elektronik, dan sebatang pensil kayu biasa (bukan pensil mekanik). Untuk menciptakan keseragaman dan kerapian, peserta wajib mematuhi aturan berpakaian: kemeja putih lengan panjang dipadukan dengan bawahan hitam berbahan kain (non-jeans). Khusus bagi peserta wanita berhijab, diwajibkan mengenakan jilbab berwarna hitam. Saat duduk di depan layar komputer, para peserta harus menaklukkan 100 soal pilihan ganda yang disajikan dalam batas waktu pengerjaan 60 menit saja. Deretan soal tersebut didesain khusus untuk menguji wawasan pengetahuan umum, regulasi perhajian, manasik haji, hingga kompetensi spesifik sesuai bidang tugas yang dilamar.
Penerapan sistem CAT dalam rekrutmen PPIH bukan hanya sekadar pergantian medium ujian, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar siap diterjunkan ke lapangan. Menjadi petugas haji adalah tugas mulia yang dibalut dengan pengorbanan. Melalui penyaringan yang transparan dan ketat ini, diharapkan para pelayan tamu Allah yang kelak diberangkatkan ke Tanah Suci adalah figur-figur tangguh berintegritas, yang siap memberikan pelayanan prima bagi jemaah haji Indonesia.